Rabu, 28 April 2010

LUBUK TEMPURUNG " BAGAIKAN SURGA YANG TURUN KE BUMI"


Dari sekian banyak pengalaman saya melakukan lintas alam di Sumbar ini, saya mendapati lubuk tempurung adalah sebuah tempat yang terbaik yang memiliki pemandangan sungai yang mempesona. Betapa tidak di sisi kiri-kanan sungai terdapat batu-batuan seperti di ukir. Selain itu juga banyak lubuk2 yang bisa untuk bermain anak-anak. Airnyapun sangat jernih, memang untuk mencapainya agak sulit. Kalau menggunakan motor kita harus berjalan sekitar 10 menit. Tapi kalau menggunakan mobil kita mungkin harus berjalan sekitar 30 menit.

Aliran air pada Lubuk Tempurung berasal dari air gunung nago. Pada kawasan aliran air di pegunungan terdapat lubuk yang berbentuk tempurung. Aliran air tersebut jauh membentuk air terjun. Untuk menuju kawasan tersebut kita harus melalui bukit. Dari atas bukit tersebut kita dapat melihat Kota Padang dan laut serta pemandangan alam yang masih alami. Perjalanan menuju objek memakan waktu lebih kurang 3 jam pulang pergi. Namun sebelum sampai ke lokasi kita melewati irigasi Sugai Guo dengan view yang menarik di sepanjang sungai. Aliran sungai dari irigasi tersebut berasal dari aliran Sungai Lubuk Tempurung. Di daerah sungai juga ada terdapat legenda goa harimau yang berada di sekitar sungai goa. Namum sekarang gua tersebut sudah tertutup, tapi pada waktu tertentu goa tersebut dapat terbuka. Air terjun yang tercurah deras membentuk sebuah lekuk seperti tempurung, dia bergaung dan bagaikan Goa, Dalam lengkung tulah terdapat lubuk yang biru, dalam, dengan air yang sangat bening dan jernih. Menyaksikan tempat yang demikian indahnya kami tak tahan. Segera membuka baju dan berhamburan kedalam lubuk itu. Ah berenang yang sangat mengasyikkan di Lubuk tempurung.

Kemudian kalau ingin menikmati pemandangan yang lebih menakjubkan lagi kita harus sedikit mendaki bukit batu di samping air terjun lubuk tempurung ini. Pemandangan diatas air terjun inipun sangat mempesona rasanya pemandangan seperti ini hanya bisa dikhayalkan orang melalui lukisan, Lubuk-lubuk kecil yang indah berwarna, hijau dan merah, karena dedaunan dan bunga yang yang larut dalam air yang bening dan jernih itu. Kalau ingin sedikit petualangan kita bisa menuruti aliran sungai. Untuk mengarungi sungai ini kita perlu ekstra hati-hati sebab selain batunya yang besar-besar akan tetapi juga licin. Selain itu aliran airnya yang cukup deras memberikan tantangan yang besar bagi kita untuk menaklukkannya.

Dengan kenangan yang tak kunjung hilang dari ingatan. Bahwa lubuk tempurung, bukanlah sembarang lubuk, dia telah mengalahkan lubuk-lubuk yang lain. Dari dalam lubuk hati yang terdalam saya kagum dan bersyukur pada Alllah, karena di lubuk itu terbayang tanda kebesaran Allah dalam ciptaannya ini. "Allahu Akbar, Maha Besar Engkau Ya Allah yang telah menciptakan tempat yang se Indah ini" Di satu hari saya akan kembali dan saya akan ¨ terjun dan berenang lagi, seperti nikmatnya hari ini.

Minggu, 25 April 2010

PERSIAPAN DAN PERALATAN ADVENTURE


Bagi para pencinta alam, terutama bagi pemula sangat dianjurkan untuk melengkapi peralatan yang berkaitan dengan lintas alam yang akan dilaksanakannya. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan ketika kegiatan dilangsungkan. Banyaknya terjadi kecelakaan dan penyakit yang tiba-tiba muncul seringkali disebabkan oleh kelalaian para adventure ini. Misalnya sudah jelas mau mendaki gunung akan tetapi tenda, jaket, atau sesuatu yang diperlukan untuk pendakian tersebut tidak di persiapkan secara matang, sehingga ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, para pendaki menjadi panic yang menyebabkan kegagalan pendakian atau yang lebih parah lagi adalah terjadinya kematian karena tubuh pendaki tersebut tidak bisa menerima perobahan cuaca yang ekstrim.
Bagaimanapun, gunung dengan rimba liarnya, tebing terjal, udara dingin,kencangnya angin yang membuat tulang ngilu, malam yang gelap dan kabut yang pekat bukanlah habitat manusia modern. Bahaya yang dikandung alam itu akan menjadi semakin besar bila pendaki gunung tidak membekali diri dengan peralatan, kekuatan fisik, pengetahuan tentang alam, dan navigasi yang baik.

Tanpa persiapan yang baik, naik gunung bisa jadi sia-sia. Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya pendakian gunung. Pertama, faktor ekstern atau faktor yang berasal dari luar diri pendaki. Cuaca, kondisi alam, gas beracun yang dikandung gunung dan sebagainya yang merupakan sifat dan bagian alam. Karena itu, bahaya yang mungkin timbul seperti angin badai, pohon tumbang, letusan gunung atau meruapnya gas beracun dikategorikan sebagai bahaya objektif (objective danger). Seringkali faktor itu berubah dengan cepat di luar dugaan manusia.
Tidak ada seorang pendaki pun yang dapat mengatur bahaya objektif itu. Namun dia dapat menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan itu. Diri pendaki, segala persiapan, dan kemampuannya itulah yang menjadi faktor intern, faktor kedua yang berpengaruh pada sukses atau gagalnya mendaki gunung.

Bila pendaki tidak mempersiapkan pendakian, maka dia hanya memperbesar bahaya subyektif. Misalnya, bahaya kedinginan karena pendaki tidak membawa jaket tebal atau tenda untuk melawan dinginnya udara dan kencangnya angin.

Tidak bisa ditawar, mendaki gunung adalah kegiatan fisik berat. Karena itu, kebugaran fisik adalah hal mutlak. Untuk berjalan dan menarik badan dari rintangan dahan atau batu, otot tungkai dan tangan harus kuat. Untuk menahan beban ransel, otot bahu harus kuat. Daya tahan (endurance) amat diperlukan karena dibutuhkan perjalanan berjam-jam hingga hitungan hari untuk bisa tiba di puncak.

Bila tidak biasa berolahraga, calon pendaki sebaiknya melakukan jogging dua atau tiga kali seminggu, dilakukan dua hingga tiga minggu sebelum pendakian. Mulailah jogging tanpa memaksa diri, misalnya cukup 30 menit dengan lari-lari santai.

Tingkatkan waktu dan kecepatan jogging secara bertahap pada kesempatan berikutnya. Bila kegiatan itu terasa membosankan, dapat diselingi dengan berenang. Dua olahraga itu sangat bermanfaat meningkatkan endurance dan kapasitas maksimum paru-paru menyedot oksigen (Volume O2 maximum/VO2 max).

Beberapa perlengkapan atau bekal yang harus dibawa saat mendaki gunung adalah
- Carriel atau tas besar untuk menampung seluruh perbekalan dan peralatan yang dibutuhkan
- Matras. Fungsinya adalah untuk alas duduk saat beristirahat sejenak.Matras juga bisa digunakan untuk pelapis di dalam carriel agar terlihat lebih rapi.
- baju hujan/raincoat. Alat ini sangat diperlukan terutama untuk mengantisipasi jika turun hujan saat pendakian. Sebab seringkali cuaca di gunung kurang bersahabat dan turun hujan yang cukup lebat.
- Tenda. Alat ini digunakan ketika para pendaki hendak beristirahat dalam waktu yang cukup lama. Tenda juga bisa melindungi para pendaki saat terjadi hujan atau angin kencang.
- Kantung tidur (Sleeping bag) dan Matras . Alat ini berfungsi untuk menyelimuti saat tidur di gunung serta untuk alas tidur.
- Alat penerangan, seperti senter kepala, lilin, batere cadangan, lampu badai. Dengan adanya alat penerangan yang memadai, maka kegiatan mendaki di malam hari bisa berjalan dengan lancar.
- Topi, sarung tangan, kaos kaki tebal, sepatu khusus/Sendal gunung. Sepatu khusus/sandal gunung ini diperlukan karena medan di pegunungan beda dengan medan di daerah yang datar sehingga memerlukan sepatu yang khusus.
- Pakaian hangat seperti jaket, kaus lengan panjang dan celana panjang kasual, celana parasut 2/3 dengan bahan yang kuat dan nyaman pakai.
- Alat-alat P3K, suplemen makanan, makanan instan/kalengan, dan minuman mineral. Ketersediaan makanan yang cukup akan mampu memberikan energi yang cukup pula saat mendaki.
- Golok tebas, pisau lipat, dan teropong. Yang tidak kalah pentingnya adalah alat perekam (kamera atau handycam) untuk mendokumentasikan kegiatan selama pendakian
- Kantong Plastik. Kantong Plastik ini sepertinya remeh, tapi sangat menentukan dalam pendakian, hal ini sagat diperlukan untuk melindungi pakaian dan makanan yang rentan terhadap hujan.
- Nesting, kompor gas mini, tabung gas mini, sendok/pisau lipat. Alat ini sangat diperlukan memasak makanan di atas gunung atau perjalanan.
Kesiapan Administrasi
Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju.
Kesiapan Ketrampilan dan Pengetahuan
Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC (emergency medical care) praktis.

Selasa, 13 April 2010

AJARKAN ANAK MENCINTAI ALLAH MELALUI ALAM


Di desa tempat saya pernah tinggal pada tahun 1975 – 1987, meskipun memiliki sarana hiburan dan media informasi yang sangat kurang. Tapi masa kanak-kanak itu masih tersimpan di memori sampai sekarang. Masih terbayang betapa indahnya pengalaman pada masa lalu itu. Pada masa itu anak diajarkan untuk kreatif dengan menciptakan permainan sendiri seperti membuat mobil-mobilan, pistol-pistolan, dll.
Dan pengalaman yang berkesan lainnya adalah bermain di dalam hutan local, mencari buah-buahan di semak belukar, berenang mengarungi sungai, memancing, dll. Semua itu dikerjakan sendiri atau bersama-sama yang mendatangkan keakraban diantara sesama. Tapi itu dulu, hutan tempat kita bermain telah hilang digantikan oleh perumahan, kalaupun ada hutan itu sudah sangat jauh dari tempat tinggal sehingga kita akan cemas untuk melepas anak bermain ke sana.
Hari ini, anak-anak banyak yang tidak pernah melihat di luar dari lingkungannya. Mereka memulai hari mereka setelah sarapan dengan TV, komputer atau ponsel pintar. Anak-anak sekarang banyak yang telah kehilangan hubungan dengan luar. Pengalaman di luar rumah akan memberi anak Anda penghargaan untuk alam, pendidikan informal dalam ilmu alam yang tidak dapat ditiru, dan cinta satwa liar, tanaman dan hal-hal alami.
Untuk itu adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua sangat dibutuhkan dalam mendidik anak-anak. Mulai dari pendidikan formal maupun non formal. Diantaranya mengenalkan alam kepada anak. Namun, seberapa sering kita berpikir untuk mengajak anak-anak menjelajahi alam?
Para ahli psikologi mendorong para orang tua untuk mendengarkan suara-suara alam bagi anak-anak mereka seperti kicauan burung, desiran angin pada dedaunan di pohon dan lain-lain. Suara-suara ini memainkan peran yang lebih penting dalam memori. Hal ini juga membantu memfokuskan anak ketika memasuki usia sekolah. Penelitian telah membuktikan, anak di bawah usia enam tahun dapat belajar paling efektif dengan menggunakan pancaindra mereka.
Alam yang indah memberi anak-anak kesempatan tak terbatas untuk itu. Ada banyak tempat di mana kita bisa membawa anak menikmati alam, Sekaligus sebagai edukasi kepada anak-anak agar lebih peka terhadap alam dan mencintai lingkungan, sehingga lebih banyak bersyukur lagi kepada Sang Pencipta.
Menurut Abdul Halim, Pelaksana Tugas Relasi media Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), tanamkan hakekat alam terlebih dulu sebelum orangtua mendorong kecintaan anak terhadap lingkungan. Anak memahami, bumi beserta isinya merupakan ciptaan dan anugerah Tuhan, yang diberikan kepada manusia agar dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai pendukung kehidupan. Agar manfaatnya maksimal maka alam harus dijaga dan dipelihara.
Kapan terakhir kali Anda mengajak anak pergi ke luar untuk menikmati suasana pegunungan atau pedesaan? Apakah anda pernah membuat ciptaan Allah SWT menjadi tampak lebih menarik bagi anak-anak? Berikut ada beberapa saran agar anak lebih mencintai alam dan pencipta-Nya.
BERKEMAH:
Pengalaman hidup di luar rumah ditemani suara serangga, burung atau binatang lainnya dapat menumbuhkan rasa natural anak. Memasak, mencuci dan tidur di luar akan membawa anak lebih mengenal Allah Tanpa diganggu oleh alat-alat elektronik. Gunakan kreatifitas Anda untuk mengenalkan kekuasaan Allah melalui alam pada anak.
MENGAMATI SUNGAI DAN AIR TERJUN.
Perhatikan ritme, kesejukan, dan keindahan gerakan air yang menciptakan suasana hati yang sempurna untuk mencerminkan syukur pada ciptaan Allah. Berbicara dengan anak-anak tentang bagaimana Allah mengatur siklus air dari tanah ke langit dan kembali ke bumi untu dimanfaatkan oleh manusia.
MENDAKI GUNUNG/BUKIT.
Berada di tempat tertinggi dari tempat kita berpijak akan memberikan pengaruh tersendiri pada jiwa anak. Anak akan menyadari bahwa ia adalah bagian dari alam, bahwa ia hanyalah sesosok makhluk yang kecil seperti makhluk-makhluk Allah yang lain. Dengan demikian anak akan menyadari kalau ia harus menjaga alam, sebab kalau alam telah di rusak, bukan hanya ia, tapi anak cucunya tidak akan bisa menikmati apa yang ia nikmati sekarang.
Dari berbagai sumber.

Senin, 12 April 2010

DANAU MANINJAU


Danau Maninjau adalah sebuah danau yang terletak di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat. Danau vulkanik ini terletak kurang lebih 461 meter di atas permukaan laut. Luas danau yang mencapai 99.5 km persegi telah mencatat danau ini sebagai danau terluas ke-11 di Indonesia. danau yang muncul akibat letusan Gunung Merapi ini memiliki kedalaman mencapai 495 meter. Sedangkan di Sumatera Barat, Maninjau merupakan danau terluas kedua setelah Danau Singkarak yang memiliki luas 129,69 km² yang berada di dua kabupaten yaitu Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok.

Menurut legenda masyarakat setempat, cekungannya terbentuk karena letusan Gunung yang bernama Sitinjau. Menurut Wiki, Berdasarkan legenda di ranah Minang mengenai “Bujang Sembilan”, salah satu di antaranya meninggal dengan cara menceburkan diri ke dalam kawah. Dan Kawah ini lah yang semakin membesar di kemudian hari.

Puncak tertinggi diperbukitan sekitar Danau Maninjau dikenal dengan nama Puncak Lawang. Untuk bisa mencapai Danau Maninjau jika dari arah Bukittinggi maka akan melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan Kelok 44 sepanjang kurang lebih 10 KM mulai dari Ambun Pagi sampai ke Maninjau. Selain itu kita juga dapat memuaskan perut kita dengan berbagai makanan khas Sumatera yang pedas, di berbagai restorant yang terdekat, atau juga daerah hotel atau penginapan. Daerah ini meskipun memiliki fasilitas terbatas namun ia memiliki keindahan panorama alam yang sangat indah.
Desa Maninjau terletak di samping danau. Buya HAMKA, salah satu sastrawan terkenal di Indonesia, dilahirkan di sini. HAMKA menulis buku yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang fenomenal itu. Figur terkenal lainnya yang dilahirkan di sini adalah Rangkayo Rasuna Said, salah satu pahlawan nasional di Indonesianya. Nama perempuan ini diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Jakarta.